Kamis, 28 Februari 2019

Seperti De Javu

Hidup ini penuh dengan misteri rasanya benar adanya. Aku, kamu, kita dan mereka takkan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Jangankan untuk melihat apa yang terjadi satu tahun mendatang, satu menit bahkan satu detik kedepan kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. Bisa berupa suka atau juga duka. Bisa berupa tawa atau juga air mata. Hidup ini terlalu singkat jika hanya untuk disesali. Tapi terkadang itulah yang terjadi. Mau tidak mau kau harus menjalaninya atau bahkan ada yang memilih lebih baik untuk menghindarinya. Tapi... sampai kapan kita mampu menghindar? sampai kapan kita membiarkan semua mengambang tanpa penyelesaian? sampai kapan? 

Seperti De Javu, peristiwa ini kembali terjadi dalam hidup ku. Aku terluka lagi bukan karena salahku. Aku tersakiti lagi hanya karena hal yang tak perlu. Diam bukan pilihan tapi aku harus memilih itu. Kau biarkan dirimu jauh dan jatuh semakin larut dalam kubangan salah paham dan dendamnya amarah. Kau biarkan hatimu tertutup tanpa mau mencari kebenaran. 

Ntahlah, aku bingung dengan sikapmu yang tak pernah bisa berubah. Aku tak menyebut diriku sempurna, tapi percayalah bukan aku pelakunya. Aku juga hanya menjadi korban. walau begitu aku sudah menutup rapat semuanya. Namun hatimu sulit untuk berterima dan berdamai dengan keadaan. Harusnya kau bertanya bukan malah menyimpan sejuta tanya itu sendiri saja. Harusnya kau mencari siapa seharusnya yang bisa kau perlakukan seperti itu.

Tapi lagi lagi itu hanya akan menjadi sebatas angan dana mimpi ku rmata. Emosi yang terlalu meluap luap bahkan samapi meledak ledak membuatmu telah gagal memahami dirimu sendiri dan juga orang lan. Membeku atau dingin seperti salju takkan merubah  apapun. percayalah ini lah yang kesekian kali kau menyakiti perasaanku. Walau aku tahu, aku pernah menyakiti mu.tapi aku berusaha untuk tetap berlaku baik dan bukan semakin menjauh.


ntahlah lagi dan lagi ini seperti de javu... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar