Jumat, 18 Mei 2018

Dear Ramadhan

Dear Ramadhan…
Hari ini Rabu, 16 Mei 2018 semua umat muslim tengah bersuka cita untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Bulan yang penuh ampunan, pahala, berkah, keutamaan dan kemuliaan. Semua mempersiapkan diri masing – masing dengan sangat baik. Mulai dari melakukan tradisi mandi wangi-wangian (balimo-limo, mandi pangir dan yang sejenisnya). Sampai kepada hal-hal yang menunjang semangat untuk melakukan puasa dikeesokan harinya. Ya, apalagi kalau bukan masak-masakan yang paling istimewa untuk keluarga tercinta. Mulai dari rendang daging sapi atau ayam, ayam goreng dan makanan lainnya yang diyakini bisa menggugah selera makan atau membuat kita jadi lebih bersemangat untuk melakukanan puasa. Walaupun pada intinya semua itu adalah tradisi bukan sesuatu yang wajib dan sangat dianjurkan oleh agama.
Kembali lagi, tradisi hanyalah tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur dan tetua kita untuk membuat warna-warni hidup, bukan untuk merusak apapun yang sudah Allah tetapkan. Sebab semua yang paling berhak atas diri kita adalah Allah. Jadi kita harus mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ok kembali lagi tentang hari ini, tentang bagaimana dan dimana orang-orang yang sangat bersamangat dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan, termasuk aku. Walau hari ini aku masih harus masuk kerja, tak menjadi soal bagi ku untuk tetap bahagia dan begitu antusias menyambut datangnya bulan yang paling sempurna itu.
Di pagi hari aku melakukan rutinitas seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah. Sebenarnya di kalender pendidikan semua sekolah sudah dinyatakan libur guna penyambutan bulan suci ini, tapi jangan heran kenapa aku masih tetap berangkat. Karena memang belum ada pernyataan libur dari kepala sekolah. Setengah hari untuk hari ini, dan kamis satu hari begitu keputusannya untuk libur. Terima saja. Apapun itu aku yakin semua sudah Allah atur untuk ku dengan baik. Sepanjang rumah yang ku lewati sudah tercium bau-bau wangi dari tumbuhan yang digunakan untuk mandi. Hm… aroma ramadhan semakin terasa begitu dekat. Rutinitas disekolah berjalan sebagaimana mestinya. Tepat 12.30 aku kembali pulang. Aku sudah ditunggu untuk memasak. Haduh… ku kira aku akan segera merebahkan badan, tapi nyatanya ti dak…!!! Baik lah apapun itu aku harus lakukan dengan hati yang bahagia demi ramadhan.
Malam ini akan dimulai shalat taraweh dan witir pertama. Aku begitu bersemangat untuk mengikutinya. Selepas maghrib aku dan ibu ku melangkahkan kaki menuju mesjid yang lokasinya tak begitu jauh dari rumah. Setiba disana aku sungguh terkejut melihat banyaknya umat islam yang juga bersemangat seperti aku. Semoga semua niat kami lillahi ta’ala bukan karena yang lainnya. Mataku menerawang jauh mencari dishaf mana aku akan shalat. Diantara kawanan orang-orang yang sudah duduk dan tiba sedari tadi dimesjid itu aku dan ibu akhirnya menemukan tempat yang bisa untuk ku jadikan tempatku untuk shalat. Satu persatu ku tatap dan aku tersenyum simpul saat ku lihat kawanan anak remaja yang usianya mungkin kisaran SD kelas 6 atau SMP sedang mengecek sebuah buku. Awalnya kau biasa saja, toh tidak ada yang aneh jika mereka membuka buku. Tapi, tampak jelas dan bisa ku baca sampul buku itu bertuliskan “Buku Kegiatan Ramadhan”. Dalam hatiku sontak berkata “o… aku mengerti” Awalnya ku kira hanya satu orang saja, tapi akhirnya aku temukan mereka yang lain yang juga membawa buku yang sama.
Aku teringat saat masih sekolah dulu, aku juga selalu membawa buku itu dari tahun ketahun. Buku ini diberikan pihak sekolah untuk mengetahui kebenaran kita beribadah saat bulan suci ramadhan atau tidak. Disana tertera shalat lima waktu dan keterangan yang diminta dimana kamu melakukan shalat. Kemudian ada shalat taraweh dan witir, yang ini keterangan dan buktinya bisa lebih mainstream. Kenapa? Ya, jelas saja karena kamu harus meminta tanda tangan imam sebagai bukti untuk guru disekolah. Iya kalau kamu kenal imamnya, nah kalau pas yang jadi imam tim syafari ramadhan dari luar daerah, gimana??? Pikirkan sendiri jalan keluarnya… J

Apapun itu yang bisa membuat mu untuk beribadah kepada Allah, selagi itu baik maka lakukanlah. Mungkin harus dengan cara itu kamu bisa ikhlas mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah. Awalnya mungkin karena takut Allah marah, tapi pada akhirnya kita bisa sadar kalau semua itu adalah penting untuk hidup kita. Allah tak pernah memaksa hamba-hamba-Nya, tapi kita yang seharusnya sadar diri dan datang pada-Nya tanpa paksaan. Mengingat kita sudah tak bisa mengingkari segala nikmat yang telah diberikan kepada kita hamba-Nya. Kita bukan apa-apa. Kita bukan siapa-siapa. Kita tak akan ada artinya. Kita tak aka nada gunanya tanpa bantuan dari-Nya. Semua akan menjadi apa-apa. Semua akan menjadi siapa-siapa. Semua aka nada artinya. Semua aka nada gunanya. Kamu tahu kenapa? Ya… benar sekali. Semua karena kuasa dan pertolongan Allah di dalam setiap kehidupan kita. Lalu nikmat Allah mana lagi yang ingin kita bantah dan kita ingkari. Seharusnya kita malu dan lebih tahu diri… J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar