Dear Ramadhan…
Hari
ini Rabu, 16 Mei 2018 semua umat muslim tengah bersuka cita untuk menyambut
datangnya bulan suci ramadhan. Bulan yang penuh ampunan, pahala, berkah,
keutamaan dan kemuliaan. Semua mempersiapkan diri masing – masing dengan sangat
baik. Mulai dari melakukan tradisi mandi wangi-wangian (balimo-limo, mandi
pangir dan yang sejenisnya). Sampai kepada hal-hal yang menunjang semangat
untuk melakukan puasa dikeesokan harinya. Ya, apalagi kalau bukan masak-masakan
yang paling istimewa untuk keluarga tercinta. Mulai dari rendang daging sapi
atau ayam, ayam goreng dan makanan lainnya yang diyakini bisa menggugah selera
makan atau membuat kita jadi lebih bersemangat untuk melakukanan puasa.
Walaupun pada intinya semua itu adalah tradisi bukan sesuatu yang wajib dan
sangat dianjurkan oleh agama.
Kembali
lagi, tradisi hanyalah tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur dan tetua
kita untuk membuat warna-warni hidup, bukan untuk merusak apapun yang sudah
Allah tetapkan. Sebab semua yang paling berhak atas diri kita adalah Allah.
Jadi kita harus mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ok kembali lagi tentang hari ini, tentang bagaimana dan dimana orang-orang yang
sangat bersamangat dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan, termasuk aku.
Walau hari ini aku masih harus masuk kerja, tak menjadi soal bagi ku untuk
tetap bahagia dan begitu antusias menyambut datangnya bulan yang paling sempurna
itu.
Di
pagi hari aku melakukan rutinitas seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah.
Sebenarnya di kalender pendidikan semua sekolah sudah dinyatakan libur guna
penyambutan bulan suci ini, tapi jangan heran kenapa aku masih tetap berangkat.
Karena memang belum ada pernyataan libur dari kepala sekolah. Setengah hari
untuk hari ini, dan kamis satu hari begitu keputusannya untuk libur. Terima
saja. Apapun itu aku yakin semua sudah Allah atur untuk ku dengan baik.
Sepanjang rumah yang ku lewati sudah tercium bau-bau wangi dari tumbuhan yang
digunakan untuk mandi. Hm… aroma ramadhan semakin terasa begitu dekat.
Rutinitas disekolah berjalan sebagaimana mestinya. Tepat 12.30 aku kembali
pulang. Aku sudah ditunggu untuk memasak. Haduh… ku kira aku akan segera
merebahkan badan, tapi nyatanya ti dak…!!! Baik lah apapun itu aku harus
lakukan dengan hati yang bahagia demi ramadhan.
Malam
ini akan dimulai shalat taraweh dan witir pertama. Aku begitu bersemangat untuk
mengikutinya. Selepas maghrib aku dan ibu ku melangkahkan kaki menuju mesjid
yang lokasinya tak begitu jauh dari rumah. Setiba disana aku sungguh terkejut
melihat banyaknya umat islam yang juga bersemangat seperti aku. Semoga semua
niat kami lillahi ta’ala bukan karena yang lainnya. Mataku menerawang jauh
mencari dishaf mana aku akan shalat. Diantara kawanan orang-orang yang sudah
duduk dan tiba sedari tadi dimesjid itu aku dan ibu akhirnya menemukan tempat
yang bisa untuk ku jadikan tempatku untuk shalat. Satu persatu ku tatap dan aku
tersenyum simpul saat ku lihat kawanan anak remaja yang usianya mungkin kisaran
SD kelas 6 atau SMP sedang mengecek sebuah buku. Awalnya kau biasa saja, toh
tidak ada yang aneh jika mereka membuka buku. Tapi, tampak jelas dan bisa ku
baca sampul buku itu bertuliskan “Buku Kegiatan Ramadhan”. Dalam hatiku sontak
berkata “o… aku mengerti” Awalnya ku kira hanya satu orang saja, tapi akhirnya
aku temukan mereka yang lain yang juga membawa buku yang sama.
Aku
teringat saat masih sekolah dulu, aku juga selalu membawa buku itu dari tahun
ketahun. Buku ini diberikan pihak sekolah untuk mengetahui kebenaran kita
beribadah saat bulan suci ramadhan atau tidak. Disana tertera shalat lima waktu
dan keterangan yang diminta dimana kamu melakukan shalat. Kemudian ada shalat
taraweh dan witir, yang ini keterangan dan buktinya bisa lebih mainstream.
Kenapa? Ya, jelas saja karena kamu harus meminta tanda tangan imam sebagai
bukti untuk guru disekolah. Iya kalau kamu kenal imamnya, nah kalau pas yang
jadi imam tim syafari ramadhan dari luar daerah, gimana??? Pikirkan sendiri
jalan keluarnya… J
Apapun
itu yang bisa membuat mu untuk beribadah kepada Allah, selagi itu baik maka
lakukanlah. Mungkin harus dengan cara itu kamu bisa ikhlas mencintai dan
mendekatkan diri kepada Allah. Awalnya mungkin karena takut Allah marah, tapi
pada akhirnya kita bisa sadar kalau semua itu adalah penting untuk hidup kita.
Allah tak pernah memaksa hamba-hamba-Nya, tapi kita yang seharusnya sadar diri
dan datang pada-Nya tanpa paksaan. Mengingat kita sudah tak bisa mengingkari
segala nikmat yang telah diberikan kepada kita hamba-Nya. Kita bukan apa-apa.
Kita bukan siapa-siapa. Kita tak akan ada artinya. Kita tak aka nada gunanya
tanpa bantuan dari-Nya. Semua akan menjadi apa-apa. Semua akan menjadi
siapa-siapa. Semua aka nada artinya. Semua aka nada gunanya. Kamu tahu kenapa?
Ya… benar sekali. Semua karena kuasa dan pertolongan Allah di dalam setiap
kehidupan kita. Lalu nikmat Allah mana lagi yang ingin kita bantah dan kita
ingkari. Seharusnya kita malu dan lebih tahu diri… J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar