Dear
Ramadhan…
Hari
ini Jum'at, 18 Mei 2018 adalah hari kedua dibulan suci ramadhan, dimana jatah liburku
juga sudah habis dan aku harus menjalankan rutinitas ku berpuasa disekolah. Awalnya
semua berjalan normal mulai dari sahur hingga aku berangkat kesekolah, tapi
kondisinya kini aku harus memilih untuk mengorbankan salah satu kebiasaan ku
yaitu waktu tidur. Aku paham dan sangat sadar jika waktu tidur manusia juga
harus delapan jam. Tapi kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku harus
bangun sahur dan melakukan kegiatan subuh, setelah itu melakukan kegiatan rumah
seperti bersih-bersih dan yang lainnya. Jika setelah itu aku memilih tidur maka
aku akan terlambat kesekolah. Well, ya sudahlah, semua itu pasti aka nada hikmahnya.
Allah tidak akan menguji hamba-hamba-Nya diluar batas kemampuannya.
Setiba
disekolah aku melakukan kegiatan mengajar seperti biasa. Semua berjalan lancer dan
sebisa mungkin memang aku menahan amarahku. Aku tahu aku sedang berpuasa, ya
puasa… aku harus bisa menahan segala sesuatu hal yang bisa mengurangi atau
bahkan menghabiskan nilai ibadah puasaku. Lumayan berhasil, walau sempat
beberapa kali aku mengeluarkan suara dengan tekanan nada agak sedikit tinggi,
tapi ku harap itu tidak akan menjadi hal yang bisa mengurangi atau membatalkan
ibadah puasaku. Amiiinnn…
Ku
coba untuk menghubungi seseorang yang ku rasa sedang jauh denganku. Aku hanya
tak ingin sikap dingin ini berkelanjutan, tapi apa yang ku dapat? Ya begitulah
manusia rambut boleh sama hitam tapi shampoo nya beda-beda, eh maksudnya rambut
yang sama hitam tapi hatinya kita tidak pernah tahu. Bisa saja didepan kita
mereka seolah-olah satu pendapat, tapi kenyataannya dibelakang pilihan mereka
berbeda. Didepan kita mereka berbicara begitu manis tetapi dibelakang kita
mulut mereka itu lebih pahit dari empedu. Ntahlah… aku hanya selalu berusaha
mencoba untuk berpikir positif dan tak mau menambah dosaku dengan bersuudzon
kepada orang lain. Sekarang terserah mereka mau bilang aku apa, aku siapa, aku
gimana dan yang lainnya. Yang terpenting adalah aku tak mengganggu mereka dan
aku percaya mereka juga telah membantuku menghapus sebagian dari pada dosaku. Mengapa?
Karena saat mereka menceritakan apapun tentangku (gossip) Allah bantu aku
dengan menghapuskan sebagian dari dosa-dosaku.
Ok
lupakan saja tentang yang diatas, kali ini aku harus pulang untuk berbuka
puasa. Ini pertama kalinya aku tidak memasak, karena sekolahku mulai pukul
setengah delapan dan berakhir di setengah enam. Sedangkan jarak dari rumah
kesekolah itu lumayan juga. Aku harus dua kali naik angkot yang berbeda untuk
sampai tujuan. Tapi apapun itu bersyukurlah. Jangan sampai kita menjadi hamba
Allah yang kufur nikmat. Sebab saat Allah tak lagi memberimu nikmat-Nya, maka
kepedihan dan azab Allah yang sangat pedih yang akan kita terima.
Tarawih
malam ini begitu cerah, aku bersemangat untuk pergi. Suasana mesjid masih
seperti biasa ramai dan penuh sesak anak-anak. Tapi tetap ku nikmati
hari-hariku di ramadhan ini. Aku sangat percaya pada janji-Nya Allah, setiap
apapun yang ku lakukan dengan baik pasti akan mendapatkan balasan lebih yang
baik pula. Sepulang tarawih berjamaah dimesjid aku harus menerjang hujan karena
tiba-tiba hujan lebat datang dan petir Guntur saut menyaut membuat suasana
malam menjadi tak menarik untuk dinikmati. Kepalaku mendadak pusing setelah
terkena air hujan, tapi tak apalah ini saatnya kembali rehat. Mengistirahatkan
tubuh dan pikiran dari penatnya rutinitas hari ini. saatnya untuk mengendorkan
urat-urat ketegangan agar rileks kembali.
Cukup
rasanya ceritaku hari ini…
Selamat
tidur dan semoga kita semua masih terus bisa terjaga diwaktu sahur dan
disepertiga malam-Nya Allah untuk selalu memohon ampunan dan pertolongan-Nya
yang nyata. Semoga waktu ku dan kamu juga masih panjang bersama ramadhan…J
Amiiiiiiiiinnnnn…
J
#ceritaku
#ramadhan #latepost #bloggers #happywriting #writingismypassion #semogaberkah #
semogamanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar