Dear
Ramadhan…
Kamis,
17 Mei 2018…
Ini adalah hari pertama menjalankan
puasa. Aku begitu antusias menyambut hari yang begitu di damba-dambakan oleh
setiap muslim dibelahan Negara manapun mereka berada. Ku set alarmku agar tak
terlambat bangun untuk sahur. Ku rebahkan badan ku yang sudah lelah ini untuk
beristirahat dengan tenang. Dengan harapan jika esok hari aku masih terjaga dan
bertemu dengan mu ramadhan.
Sekitar jam tiga pagi saat itu aku
terjaga, ku raih telepon genggam ku untuk melihat waktu dan aku bergumam,
“Hm… syukurlah aku belum terlambat
dan masih bisa terjaga untuk bertemu dengan mu ramadhan”.
Tak
berlama-lama, ku bantu tubuhku untuk bangun dari tempat tidur sebab aku
teringat ini masih seperti malam dan waktu ini sangat baik untuk beribadah
tahajud kepada Allah. Karena Dia akan mengabulkan dan mengijabah setiap
do’a-do’a hamba-Nya. Segera aku meluncur menuju kamar mandi untuk berwudhu
mensucikan najis, lalu kemudian shalat.
Selesai shalat aku teringat jika
hari ini aku harus memasak makanan untuk sahur. Walaupun sebenarnya lauk sudah
ada, tapi aku meminta ibuku untuk membeli mie instan agar makan jadi berkuah
gak kering cuma pakai lauk sambal tok. Ibuku setuju dengan usulan itu. Ku
persiapkan segala bumbu untuk memasak mie instan yang bisa membuat makan jadi
lebih berselera. Tapi pasti ada yang komen bilang kalau mie instan itu tak baik
jika harus dikonsumsi saat sahur dan bla bla bla… ya aku tahu tapi kali ini
kami hanya memasak untuk pengganti kuah sayur yang saat ini tidak ada. Ku mulai
dari menumis bawang goreng, menambahkan cabai halus dan air lalu memasukkan mie
instan kedalam rebusan kaldu sederhana itu, setelah itu diakhir ku tambahkan
bumbu dan juga telur saat air sudah mendidih. Setelah selesai ku coba
membangunkan ibuku yang masih tertidur pulas. Ketika ibu bangun kami segera
makan sahur, karena ku rasa sudah cukup mengukur waktu sdeari aku memasak tadi
untuk memperlambat makan sahur.
Ketika kami berdua sedang makan
sahur, lalu adik ku dan suaminya juga ikut nimbrung dan bilang mereka berdua
juga mau berpuasa. Alhamdulillah, jawabku dalam hati. Akhirnya tak hanya kami
berdua yang sangat berpuasa tapi mereka juga. Ramadhan kali ini aku juga merasa
sedih karena ayah tidak berpuasa. Apa mungkin dia terlalu lelah melaut sehingga
tak kuat untuk menahan haus dan dahaga? Apa mungkin, apa mungkin? Banyak
kemungkinan yang terbersit diotak ku hanya saja aku tak ingin suudzon sama ayah
ku sendiri. Aku selalu berdo’a Allah akan menyentuh relung hati ayah dan mau
berpuasa seperti dulu lagi. Aku tahu dia itu laki-laki yang kuat dan hebat. Dia tidak mungkin akan selemah itu.
Dirumah juga sepi karena adikku yang
paling bontot belum bisa pulang kerumah. Dia masih harus berkutat dengan urusan
kampusnya demi menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa teknik
elektro di Politeknik Negeri Medan (POLMED). Aku membayangkan akan bagaimana
sahurnya, berbukanya dan yang lainnya. Aku tak pernah cemas dia tidak bisa
makan dan yang lainnya, hanya saja dia itu memang lebih terbiasa makanan
rumahan dengan porsi yang cukup lumayan. Sedangkan disana tak mungkin dia harus
seroyal dirumah ini, sebab dia yang harus pikirkan dan bagi uangnya sendiri. Aku
hanya berharap dia akan segera menyelesaikan tanggung jawabnya dan pulang
kerumahh kami. Biar rumah jadi ramai lagi.
Kini yang membuat rumah ramai ya
Fatih, itupun kalau dia sedang tidak tidur. Kalau dia mau tidur maka amukan dan
teriakan yang akan kita dengar. Jika waktu nya bermain ya sudah pasti semua
pasti akan ikut tertawa bersama nya. Dia akan bangun waktu sahur untuk bersahur
juga (ASI). Lalu kemudian diapun akan tetidur lagi. Sementara kami harus
melanjutkan makan sahur dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Bedanya hari
aku dapat libur sehari dari sekolah, Alhamdulillah disyukuri saja walaupun
sebenarnya sekolah lain sudah libur hari ke empat, seperti sekolah tempat
adikku mengajar. Tak sekolah berarti menjadikan ku sebagai seorang tukang masak
dirumah, tukang cuci dan yang lainnya. Membibi kalo bahasa kerennya. Hahaha…
tak apalah yang penting aku senang menjalaninya.
Kali ini untuk menu buka puasa aku
akan memasak beberapa jenis masakan untuk membuat orang rumah selera waktu buka
puasa. Ada telur puyuh sambal balado, tumis sawi putih, kerupuk sambal dan adik
ku juga buat minuman special, jus tiung (terong belanda). Komplit deh rasanya.
Walau nanti hanya kami berempat yang bisa makan bersama, karena ayah harus
melaut. Sebelum waktu berbuka tiba aku sempatkan untuk mencuci baju yang sudah
cukup lumayan banyak dan jika menunggu umak (ibu) aku takut tangannya akan
sakit lagi. Akhirnya waktu berbuka tiba dan kami menikmati makanan yang sudah
tersedia, tapi aku lebih memilih shalat maghrib dulu dari pada makan berat.
Tahu kenapa? Ya… tepat sekali, aku takut setelah kenyang aku jadi mager (malas
gerak) untuk shalat maghrib. Setelah shalat maghrib ku selesai ku lanjut lagi
mengisi perut yang sudah lebih kurang tiga belas jam kosong dengan makan berat.
Tapi bukan berarti aku makan yang berat-berat ya, tapi maksudnya makan makanan
yang mengandung karbohidrat seperti nasi. Selepas makan ku istirahatkan sejenak
tubuhku sambil menunggu isya. Aku akan kemesjid bersama umak untuk bertawarih
jamaah. Ya, seperti biasa masih padat jamahnya,J Alhamdulillah…
semoga ini tetap berlanjut walaupun pada akhirnya hari ini aku harus rela dan
ikhlas dapat shaf paling ujung dan sempit. Hanya saja niatkan semuanya karena
Allah pastikan tempat yang sempit bukan hati kita. Jika hati kita lapang,
apapun itu akan ikut menjadi lapang termasuk tempat shalat dan yang lainnya.
Ini ceritaku di hari pertama puasa.
Bagaimana dengan kamu???
Aku
akan tetap berbagi cerita ramadhan ku di blog ini, semoga kamu kamu suka
membacanya dan bisa share juga cerita-cerita kamu. Berbagi pengalamanlah
ceritanya… J
Sekian
untuk hari ini, sampai jumpa dicerita berikutnya… J
Wassalam
J
#iniceritaku
#manaceritamu #bloggers #ceritaramadhan #latepost #mystory
Tidak ada komentar:
Posting Komentar